Kandungan Paracetamol di Teluk Jakarta Miliki Konsentrasi Tinggi Dibanding Negara Lain

Ilustrasi Teluk Jakarta. /Pixabay/zulvankurniawan
Baru-baru ini terungkap, bahwa Muara Sungai Angke dan muara Sungai Ciliwung Ancol di Teluk Jakarta tercemar paracetamol.
Bahkan disebutkan bahwa kandungan paracetamol ini dengan konsentrasi tinggi.
Hal itu berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang bekerja sama dengan peneliti di Inggris.
Disampaikan oleh peneliti bidang ekotoksikologi di Pusat Riset Oseanografi BRIN, Wulan Koagouw di Jakarta, Sabtu, 2 Oktober 2021.
Dia mengatakan kandungan paracetamol di dua titik ini memiliki konsentrasi yang tinggi daripada negara lain.
“Kami mendeteksi paracetamol di dua titik yaitu di Muara Sungai Ciliwung Ancol dan Muara Sungai Angke di Teluk Jakarta, dan di situ konsentrasinya ternyata lumayan tinggi jika dibandingkan dengan konsentrasi-konsentrasi lainnya yang sudah terdeteksi di negara-negara lain,” kata Wulan.
Studi itu dimuat dalam jurnal Marine Pollution Bulletin berjudul High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia, yang dilakukan oleh Wulan Koagouw dan Zainal Arifin dari BRIN, dan George WJ Olivier dan Corina Ciocan dari Universitas Brighton di Inggris.
Dalam studi ini, mereka melakukan investigasi beberapa kontaminan air dari empat lokasi di Teluk Jakarta, yakni Angke, Ancol, Tanjung Priok, dan Cilincing, serta satu lokasi di pantai utara Jawa Tengah, yaitu Pantai Eretan.
Wulan menjelaskan, dengan mengambil sampel air laut dari lokasi-lokasi tersebut pada 2017. Sementara di Teluk Eretan tidak terdeteksi kandungan paracetamol.
Sebagaimana disampaikan bahwa, paracetamol merupakan salah satu kandungan yang berasal dari produk obat atau farmasi yang sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, secara bebas dan tanpa adanya resep dokter.
Lebih lanjut, Wulan yang saat ini tengah berada di Inggris itu menuturkan, konsentrasi tinggi paracetamol itu terdeteksi di daerah Angke sebesar 610 nanogram per liter (ng/L) dan Ancol sebesar 420 ng/L. 
Selain itu, Wulan menjelaskan kondisi dengan konsentrasi paracetamol yang cukup tinggi itu meningkatkan kekhawatiran tentang risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta.
Terutama dampak pada peternakan kerang di sekitar perairan itu, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman Antara.
Kemudian, dia menuturkan jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta relative tinggi yakni 420-620 ng/L, di Bandung di pantai Brasil yang sebesar 34,6 ng/L. Lalu pantai utara Portugis yang mencapai 51,2-584 ng/L.
Bahkan, dalam studi tersebut juga menunjukan beberapa parameter nutrisi seperti ammonia, nitrat dan total fosfat, melebihi batas Baku Mutu Air Laut Indonesia. Selain itu, terdeteksi beberapa logam di dalamnya.
Hasil penelitian yang dapat diakses di laman sciencedirect.com itu merupakan studi pertama yang melaporkan paracetamol (acetaminophen) di perairan pesisir Indonesia.
Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, akan tetapi beberapa hasil penelitian di Asia Timur, seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zooplankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stres hewan, dan oxydative stress.
Yakni keseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.
Diketahui, homeostasis adalah proses dan mekanisme otomatis yang dilakukan makhluk hidup untuk mempertahankan kondisi konstan agar tubuhnya dapat berfungsi dengan normal. Meskipun terjadi perubahan pada lingkungan di dalam atau di luar tubuh.
Sementara peneliti di Pusat Riset Oseanografi BRIN Zainal Arifin yang juga menulis studi tersebut, menuturkan, secara teori sumber sisa paracetamol yang ada di perairan Teluk Jakarta dapat berasal dari tiga sumber, yaitu ekskresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.
Zainal mengatakan, dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, ada potensi sebagai sumber kontaminan di perairan.
Sementara, untuk sumber potensi dari rumah sakit dan industri farmasi dapat diakibatkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal, sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai.Sumber: PIKIRAN RAKYAT
TEAM SOSIAL MEDIA INFO NUSANTARA

China ajak AS jadi mitra dan sahabat

Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia China ajak AS jadi mitra dan sahabat Presiden China Xi Jinping (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China) Beijing  – Presiden China Xi Jinping

Read More »

Share this: