
Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia


KLIK DISINI SUSUNAN PENGURUS PERMASIS

Klik disini untuk melihat Momen Imlek Bersama’PERMASIS

Pulang Kampung Demi Jadi Tatung

Jaga Tradisi: Sucin dan Su Cian kembali meramaikan Cap Go Meh setelah dua tahun absen. Keduanya terbang dari Hongkong dan Singapura untuk menjadi tatung di tanah kelahirannya. Insert, dari kiri ke kanan Su Cian Sucin dan Susan. SHANDO SAFELA/ PONTIANAK POST
Terbang dari Hongkong dan Singapura
Bagi masyarakat Tionghoa Kota Singkawang, perayaan Cap Go Meh sudah menjadi tradisi dan budaya yang terus dilestarikan. Bahkan, para perantau keturunan Tionghoa Singkawang selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung. Termasuk mereka yang memiliki darah keturunan tatung. Dua bersaudara Sucin dan Su Sian adalah contohnya. Mereka rela jauh-jauh datang dari Hongkong dan Singapura untuk ikut memeriahkan Cap Go Meh.
SETELAH dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19, festival Cap Go Meh Kota Singkawang yang berlangsung hari ini dipastikan bakal meriah. Kemeriahan itu sudah tampak sejak H-1 puncak perayaan Cap Go Meh, Sabtu (4/2) kemarin. Sesuai tradisinya, sejak pagi ratusan tatung menjalani ritual cuci jalan dari satu kelentang atau vihara ke kelenteng lainnya.
Salah satu yang ramai dikunjungi adalah Vihara Tri Dharma Bumi Raya (Toa Pekong). Ritual cuci jalan sendiri digelar untuk membersihkan kota dari ruh-ruh jahat. Tatung-tatung yang datang dari beberapa wilayah hingga pinggiran kota, ikut menjalani ritual tersebut. Mereka silih berganti mengunjungi pekong tertua di Kota Singkawang itu.
Ada tiga tatung wanita yang cukup menarik perhatian. Mereka berasal dari pekong Cetya Tho Fab di Jalan Pulau Belitung No.34, Singkawang Barat. Ketiganya merupakan saudara kandung dari pasangan Akong dan Ah Ngo. Akong dulunya juga seorang tatung yang selalu ikut festival Cap Go Meh. Bisa dibilang ia merupakan salah satu tatung senior di Kota Singkawang.
Kini di usianya yang sudah 83 tahun, Akong tidak lagi mengikuti festival. Anak-anaknya yang kemudian melanjutkan tradisi turun-temurun itu, termasuk ketiga tatung wanita tadi, dan beberapa anak laki-lakinya yang lain. Total anak Akong ada 14 orang. Enam di antaranya merupakan tatung.

Dari ketiga anak wanita Akong yang menjadi tatung, kakak tertua bernama Sucin. Ia anak kesembilan. Lalu Su Sian, anak ke-10, dan Susan (dewi Hoi Liung Nyiong Nyiong) anak ke-11. Uniknya lagi, dua di antaranya tidak tinggal di Kota Singkawang. Sucin dan Su Sian bisa dibilang diaspora yang sudah lama tinggal di luar negeri.
Sucin misalnya, sudah 20 tahun tinggal di Hongkong. Ia merantau sejak masih gadis. Kini ia telah berkeluarga dan memiliki satu anak di sana. Menjadi tatung menurutnya bukan pilihan, tapi dirinyalah yang dipilih. Darah seorang tatung biasanya diturunkan dari leluhur, hingga ke anak dan cucu.
“Menjadi tatung itu dipilih karena keturunan leluhur kita ada yang menjadi tatung. Saya menjadi tatung sudah hampir 16 tahun. Saya tinggal dan berkeluarga di Hongkong. Setahun sekali pulang ke Singkawang saat Imlek dan Cap Go Meh,” ungkap perempuan yang ketika menjadi tatung dirasuki Dewi Jun Fung Sian Ku itu.
Awalnya ia juga tidak menyangka bisa terpilih menjadi tatung. Waktu kecil ia bahkan selalu takut melihat tatung. Saking takutnya, bisa terbawa-bawa sampai dalam mimpi. Apalagi dulunya jarang sekali perempuan yang menjadi tatung. Di awal-awal, ia sempat merasa malu, bahkan sampai stres. Namun, lama-kelamaan ia pun terbiasa. Ia justru bersyukur dengan kelebihan yang dimiliki.
“Saya juga sempat merasakan sakit-sakitan (di awal), lalu dibawa ke dokter, tetapi tidak bisa sembuh. Ternyata saya dipilih (dirasuki ruh) menjadi tatung. Dengan menjadi tatung (punya kelebihan), saya bisa mengobati penyakit (menolong orang),” tuturnya.
Sucin merasa senang tahun ini bisa kembali ke Kota Singkawang. Untuk mengikuti festival Cap Go Meh, ia rela terbang jauh-jauh dari Hongkong. Selain pulang kampung agar bisa berkumpul bersama keluarga besar, kedatangannya juga khusus untuk menjaga tradisi tatung yang diturunkan leluhur. “Waktu pandemi Covid-19 kemarin (dua tahun) tidak pulang,” ucapnya.
Hal serupa juga dirasakan Su Sian. Wanita yang selalu dirasuki Dewi Kim Liung Nyiong Nyiong itu sudah belasan tahun tinggal di Singapura. Ia juga telah berkeluarga dan memiliki satu anak di sana. Su Sian pulang ke kota kelahirannya setahun sekali, untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh. “Baru tahun ini pulang (lagi) ke Singkawang setelah pandemi Covid-19. Rasa rindu pasti ada karena dulu setiap tahun pulang. Tahun ini perayaan Imlek dan Cap Go Meh juga lebih meriah,” ujarnya.
Terpilihnya Su Sian menjadi tatung terhitung baru. Kira-kira sekitar lima tahun yang lalu. Ruh dewa atau dewi yang merasuki tubuh seorang tatung memang tak mengenal usia. Ada yang sedari kecil atau anak-anak, ada juga yang sudah dewasa seperti Su Sian.
Ibu satu anak itu awalnya juga tidak menyangka. Pertama kali ia dirasuki ruh Dewi Kim Liung Nyiong Nyiong itu justru ketika berada di Singapura. “Saya bahkan awal masuknya dewi saat di rantauan (Singapura). Saya merasa sakit-sakitan, lalu telepon orang tua (ayah). Saya diminta pulang ke Singkawang. Pas pulang, ternyata langsung masuk dewinya,” ceritanya.
Saat awal-awal menjadi tatung, Su Sian juga sempat merasa malu karena dulunya yang menjadi tatung hanya laki-laki. Ia juga mulanya tidak percaya diri, karena ketika kerasukan, gestur dan mimik wajahnya tak bisa dikontrol. “Jadi wajah kita yang cantik jadi berubah aneh,” kelakarnya.

“Saya awalnya merasa tidak mau (jadi tatung). Saya bahkan tidak mau pulang ke Singkawang. Saya bilangnya (ke orang tua) sibuk kerja, tapi malah kena (dirasuki ruh) di sana (Singapura), bukan di sini (Singkawang). Habis itu saya terima saja. Lagian juga dewinya baik hati dan suka menolong kita,” tambahnya.
Sang suami yang merupakan warga Singapura sempat heran atau merasa aneh. Tidak percaya sang istri bisa terpilih menjadi tatung. Namun, karena sudah diberikan pengertian oleh Su Sian dan keluarga, suami akhirnya bisa memaklumi. “Awalnya suami agak kaget kok bisa gitu (kerasukan ruh dewi). Anak saya juga sama, kaget dan takut, karena di sana (Singapura) tidak ada (tradisi tatung). Kemudian saya berikan pemahaman,” katanya.
Baik Sucin, Su Sian, maupun Susan, ketiganya berharap perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Kota Singkawang tahun ini dan seterusnya bisa selalu meriah. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa terus menjaga tradisi turun-temurun keluarga, menjadi tatung. “Kami harapkan pada Imlek dan Cap Go Meh tahun ini, kita selalu diberikan kesehatan, dan keselamatan, kemudian perekonomian juga lancar,” ujarnya.
Seperti diketahui, tatung dalam bahasa Hakka adalah orang yang dirasuki ruh dewa dewi atau leluhur. Ketika kerasukan, raga atau tubuh orang tersebut dijadikan alat komunikasi atau perantara antara ruh leluhur atau dewa dewi tersebut. Caranya melalui doa atau mantra, ruh dewa atau dewi itu dipanggil ke altar tempat berdoa. Kemudian ruh akan memasuki raga orang-orang terpilih tersebut.
Sumber: Pontianak Post

BERITA LAINNYA KLIK DISINI
UNTUK BERITA LAINNYA KLIK DISINI
