Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

Siklon Chido Hancurkan Mayotte Prancis, Warga Alami Krisis

Pusaran angin berwarna abu-abu, cenderung hitam menghantam suatu wilayah (Foto: Dokumentasi/Freepik)

Siklon Chido, yang merupakan badai terburuk dalam 90 tahun telah menghantam wilayah Mayotte, Prancis. Siklon ini membawa angin dengan kecepatan lebih dari 225 km/jam, menghancurkan rumah-rumah warga, sebagian besar terbuat dari atap seng.

Akibatnya, ada warga di Ibu Kota Mamoudzou sudah tiga hari tanpa air dan makanan. “Beberapa tetangga saya kelaparan dan kehausan,” kata seorang warga, dikutip dari BBC News, Selasa (17/12/2024).

Presiden Prancis, Emmanuel Macron berjanji akan mengunjungi Mayotte dalam beberapa hari mendatang. Ia juga akan mendeklarasikan hari berkabung nasional atas tragedi ini.

Macron juga menegaskan dukungannya kepada warga Mayotte, petugas penyelamat, dan aparat yang bekerja keras dalam upaya penyelamatan. Petugas penyelamat, termasuk tim bantuan dari Prancis, masih mencari korban selamat di antara puing-puing.

Dua puluh orang telah dikonfirmasi meninggal, namun jumlah korban diperkirakan bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan. Kesulitan mencatat jumlah korban disebabkan oleh banyaknya migran tanpa dokumen di Mayotte.

Migran di wilayah tersebut jumlahnya mencapai lebih dari 100 ribu dari total populasi 320 ribu. Kerusakan infrastruktur memperparah situasi, dengan listrik padam di 85 persen wilayah dan jalan-jalan yang tidak dapat dilalui.

Telepon hanya berfungsi di sekitar 20 persen wilayah, sebagian daerah mulai mendapatkan pasokan air ledeng, meskipun tidak layak. Seorang perawat menggambarkan situasi di rumah sakit utama Mamoudzou sebagai “bencana total”.

Krisis ini membuat warga merasa ditinggalkan dan tidak tahu kapan bantuan akan datang. Menteri Kesehatan Prancis menyatakan, sistem kesehatan di Mayotte rusak akibat siklon.

Mayotte, yang merupakan wilayah Prancis di Samudra Hindia, masih sangat bergantung pada bantuan keuangan Prancis. Sekitar 75 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, dengan tingkat pengangguran mencapai satu dari tiga orang.

Senator Mayotte, Salama Ramia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kelaparan yang semakin parah. “Ada warga yang belum makan atau minum sejak Sabtu,” ujarnya.

Untuk membantu upaya penyelamatan, 110 tentara Prancis telah tiba di Mayotte, dengan 160 lainnya sedang dalam perjalanan. Operasi bantuan dikoordinasikan dari Reunion, wilayah Prancis lainnya di Samudra Hindia.

Palang Merah Prancis menyebut situasi di Mayotte kacau. Mereka memperkirakan jumlah korban jiwa akan terus bertambah, terutama di kawasan kumuh yang hancur total.

YAMAFLORIST HP/WA.0812 88729 886 - 0851 7431 3368

Share this: