Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

Ribuan Korban Penipuan Online Myanmar Tunggu Repatriasi

Suasana kota Mae Sot, Thailand, yang berlokasi di dekat perbatasan dengan Myanmar (Foto: Antara/Xinhua)

Sekitar 7.000 korban penipuan online (scammer) di Myanmar masih tertahan menunggu proses repatriasi atau pemulangan ke negaranya masing-masing. Ini setelah otoritas Thailand, Myanmar, dan Tiongkok bekerja sama menindak tegas para pelaku kejahatan tersebut.

Penggebrekan terhadap pusat penipuan online berawal dari kunjungan Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, ke Beijing beberapa waktu lalu. Saat itu dia berjanji memberantas sindikat scammer yang telah menjebak ratusan ribu orang kepada Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Para korban dari berbagai negara dibujuk bekerja di Myanmar, Kamboja,dan Laos dengan iming-iming gaji besar. Kenyataannya mereka mengalami penyekapan dan dipaksa bekerja sebagai operator situs kencan online, investasi bodong, dan judi online. 

Kini ribuan korban perdagangan manusia yang berhasil diselamatkan itu berada di Mae Sot, Thailand, yang berbatasan dengan Myanmar. Pejabat tiga negara itu dijadwalkan bertemu pekan depan untuk membahas teknis pemulangan mereka.

Direktur Acts of Mercy International, Amy Miller, mengaku tidak pernah melihat korban perdagangan manusia dalam jumlah sangat besar. Karena itu, dia mengapresiasi Pemerintah Thailand yang mampu melaksanakan tugas berat tersebut.

Amy juga meminta negara asal korban ikut bertanggung jawab memulangkan warganya yang turut menjadi korban. “Ini benar-benar membutuhkan respons secara global,” ujarnya dikutip AP News, Kamis (27/2/2025).

Masalah logistik termasuk verifikasi identitas para korban menjadi salah satu tantangan terberat dalam proses repatriasi tersebut. “Jika tidak ditangani secara cepat, ini akan menjadi masalah serius di kawasan,” kata Wakil PM Thailand, Phumtam Wechayachai.

Sumber: RRI.co.id

YAMA FLORIST & NusantaraGrafis HP/WA.0812 88729 886 - 0851 7431 3368

Share this: