
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu 29 Oktober bertolak ke Korea Selatan (Korsel). Rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping dinanti meredakan panasnya perang dagang AS-China.
Trump dijadwalkan selama dua hari berada di sekutu utama AS, Korsel, untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Kota Gyeongju, setelah mengunjungi Malaysia dan Jepang.
Kunjungan Trump tersebut merupakan agenda ketiga dari perjalanannya ke Asia yang dipuji Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebagai “pembawa perdamaian” mengingat kehadiran Trump di KTT ASEAN 2025 Malaysia.
Namun, mata dunia tetap tertuju pada pertemuan Trump-Xi yang dijadwalkan pada Kamis 30 Oktober besok. Jika terealisasi, akan menjadi pertemuan perdana sejak enam tahun lalu dua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut duduk bersama.
Pertemuan tersebut dinilai juga dapat menentukan apakah AS dan China menghentikan perang dagang kedua negara yang telah mengguncang pasar global dan membuat rantai pasokan internasional panik.
Para negosiator dari Beijing dan Washington telah mengonfirmasi bahwa telah tersusun “kerangka kerja” menjelang rencana pertemuan Trump-Xi di sela KTT APEC 2025 Korsel.
Menurut analis hubungan internasional dari International Crisis Group, William Yang, AS “sangat ingin mencapai kesepakatan perdagangan apa pun yang dapat dinyatakan Trump sebagai kemenangan” sementara China berfokus pada “membangun lebih banyak rasa saling percaya, mengelola perbedaan yang telah lama ada, dan memantapkan hubungan perdagangan bilateral”.
“Tampaknya ada ketidaksesuaian dalam hal posisi kedua negara menjelang KTT Trump-Xi,” kata William dikutip dari AFP.





