Satelit milik Badan Penerbangan serta Antariksa Amerika Serikat atau NASA berhasil mendeteksi konsentrasi karbon monoksida atau CO yang sangat tinggi di atmosfer Indonesia pada periode 13 hingga 15 Oktober 2026.
Visualisasi tersebut ditampilkan melalui laman Eyes on the Earth milik NASA pada fitur Vital Signs, menggambarkan sebaran gas berbahaya tersebut di atmosfer pada ketinggian sekitar 18.000 kaki atau 5,5 kilometer. Mengutip data NASA, area berwarna merah pada peta menunjukkan konsentrasi karbon monoksida lebih tinggi, sementara area berwarna biru serta ungu menunjukkan konsentrasi lebih rendah.
Visualisasi tersebut memperlihatkan hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua didominasi warna merah pekat. Sebelumnya pada 28 Agustus 2026, instrumen VIIRS di atas satelit NOAA-20 juga merekam kepulan asap tebal dari kebakaran hutan di Kalimantan Tengah serta Kalimantan Barat yang bergerak ke arah barat laut.
Karbon monoksida sendiri adalah gas tidak berwarna serta tidak berbau hasil pembakaran tidak sempurna bahan organik seperti kayu serta vegetasi hutan.
Sifatnya membuat gas tersebut sangat berbahaya karena tidak bisa dideteksi oleh panca indera manusia tanpa alat khusus. Menurut NASA, karbon monoksida dapat bertahan di atmosfer sekitar satu bulan serta dapat terbawa angin dalam jarak sangat jauh. Pada ketinggian tinggi gas tersebut memiliki dampak minimal, namun angin kencang bisa membawanya turun ke permukaan bumi sehingga secara signifikan memperburuk kualitas udara.
Berdasarkan keterangan resmi NASA serta berbagai penelitian ilmiah, menghirup karbon monoksida dapat mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Dampak langsung yang bisa dirasakan antara lain sakit kepala, penurunan kewaspadaan, sesak napas, rasa mual, pusing, serta iritasi pada mata serta tenggorokan. Kelompok paling rentan terhadap paparan gas tersebut adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung serta paru-paru. Paparan jangka panjang bahkan berpotensi memicu gangguan kardiovaskular serius.
Kebakaran Gambut dan Langkah Mitigasi Kebakaran gambut seperti yang terjadi di Kalimantan serta Sumatera terbukti menghasilkan kadar polutan jauh lebih tinggi dibandingkan kebakaran hutan biasa.
Penelitian yang dikutip NASA menyebut kebakaran gambut menghasilkan dua kali lebih banyak karbon monoksida, tiga kali lebih banyak karbon organik, serta lima kali lebih banyak sulfur dioksida dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya. Perlu dipahami bahwa data satelit NASA pada ketinggian 5,5 kilometer tidak bisa digunakan secara langsung untuk menyimpulkan tingkat paparan CO tepat di permukaan bumi tempat masyarakat beraktivitas.
Untuk mengetahui kualitas udara aktual, masyarakat bisa memantau Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU melalui situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup. Masyarakat di wilayah terdampak karhutla sangat disarankan untuk membatasi aktivitas luar ruang, selalu menggunakan masker pelindung pernapasan saat keluar rumah, menutup jendela serta ventilasi rumah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan pernapasan. Kelompok rentan disarankan untuk tidak keluar rumah sama sekali selama kualitas udara berada pada level berbahaya.
Sumber: PIKIRAN RAKYAT