Georgieva berkata dalam unggahan di laman IMF bahwa inflasi telah “meluas melampaui harga makanan dan energi”.
Ini membuat banyak bank sentral meningkatkan biaya pinjaman, sesuatu yang dia katakan akan “perlu dilanjutkan”.
Adapun bank sentral Kanada menjadi bank sentral terbaru yang menaikkan suku bunga, dari 1,5% menjadi 2,5% demi mengatasi inflasi yang melonjak menjadi 7,7%.
Gubernur bank sentral Kanada, Tiff Macklem mengatakan angka kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan dan merupakan inflasi terbesar dalam 24 tahun, “mencerminkan kekhawatiran bahwa inflasi terlalu tinggi dan itu mempengaruhi semua warga Kanada”.
Sementara bank sentral AS diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga, yang kemungkinan menjadi peningkatan suku bunga terbesar, dalam pertemuan bulan ini.
Sejauh ini, The Fed—sebutan bagi bank sentral AS—telah menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali tahun ini saja.
Suku bunga yang lebih tinggi, biasanya dilakukan untuk menekan inflasi, sebab itu berarti perusahaan dan orang-orang perlu menggunakan uang tunai untuk membayar pinjaman, ketimbang menghabiskan uang itu untuk makanan dan layanan.
IMF mengatakan sebanyak 75 bank telah menaikkan suku bunganya tahun lalu, dengan rata-rata kenaikan 3,8 kali.
Akan tetapi, jika pola itu tidak berlanjut, Georgieva mengantisipasi “lebih banyak kerugian bagi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja”.
“Bertindak sekarang akan lebih sedikit merugikan daripada bertindak nanti,” tambahnya.
Dia juga memperingatkan negara-negara yang telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung ekonomi mereka selama pandemi, perlu menguranginya untuk meredam permintaan barang dan jasa yang didorong oleh uang itu.
Bantuan uang tunai masih dibutuhkan
Bagaimanapun, bantuan uang tunai “untuk mendukung rumah tangga yang rentan”, masih dibutuhkan, terutama mereka yang paling terdampak kenaikan harga energi atau pangan yang tinggi, katanya.
Georgieva mengatakan pengeluaran ini harus didanai oleh pemotongan di alokasi anggaran atau sumber pendapatan baru, selain utang.
Dalam jangka panjang, tambah Georgieva, kebijakan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja global, terutama yang mendorong lebih banyak perempuan untuk bekerja, juga akan membantu.