BEIJING/SEOUL.China dan Korea Utara dijadwalkan membuka Jembatan Sungai Yalu Baru pada Kamis (15/10/2026). Infrastruktur yang menghubungkan kedua negara tersebut diharapkan memperkuat perdagangan bilateral di tengah upaya Pyongyang menjaga keseimbangan hubungan ekonomi dan strategis dengan Beijing serta Moskow.
Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan pada Rabu (14/10/2026) bahwa kedua negara akan menggelar upacara pembukaan bersama. Namun, media pemerintah Korea Utara belum segera memberitakan rencana tersebut.
Jembatan ini akan menjadi jalur penyeberangan darat terbesar dan paling signifikan untuk perdagangan antara China dan Korea Utara. China telah menyelesaikan pembangunan bagian jembatan di wilayahnya sejak 2014 dengan harapan dapat meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara.
Namun, Korea Utara belum menyelesaikan jalan penghubung dan fasilitas bea cukai di wilayahnya seiring memburuknya hubungan bilateral akibat uji coba nuklir Pyongyang dan sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyusul tindakan tersebut.
dengan Rusia Pembukaan jembatan baru ini menandai kemajuan lebih lanjut dalam hubungan bilateral Beijing dan Pyongyang. Perkembangan tersebut terjadi beberapa pekan setelah Korea Utara membuka jembatan jalan raya pertamanya yang menghubungkan negara itu dengan Rusia.
Hubungan Korea Utara dan Rusia berkembang pesat sejak pertemuan pemimpin kedua negara pada 2023. Ekspor China ke Korea Utara Capai US$ 2,3 Miliar Penguatan konektivitas darat berpotensi mendukung peningkatan aktivitas perdagangan China dan Korea Utara. Pada tahun lalu, ekspor China ke Korea Utara mencapai US$ 2,3 miliar, tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Nilai tersebut meningkat 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, angka itu masih jauh di bawah tingkat perdagangan sebelum sanksi PBB diperketat pada 2017. China dan Rusia sejak itu mempertanyakan legitimasi sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB yang sebelumnya mereka dukung.
Kedua negara juga dituduh oleh negara-negara seperti Korea Selatan dan Amerika Serikat melakukan aktivitas perdagangan serta pertukaran yang melanggar sanksi tersebut.
China merupakan mitra dagang terbesar Korea Utara dengan selisih yang jauh dibandingkan negara lainnya. Karena itu, pembukaan jembatan baru memiliki arti penting bagi negara yang selama bertahun-tahun relatif terisolasi dari perekonomian global tersebut. Korea Utara kini berupaya memperluas hubungan eksternal setelah pandemi, sembari menyeimbangkan hubungan dengan dua mitra utama dalam bidang ekonomi dan strategi, yakni China dan Rusia.
Bulan lalu, Korea Utara dan Rusia juga membuka jembatan jalan raya yang melintasi Sungai Tumen. Infrastruktur tersebut menambah konektivitas transportasi kedua negara di tengah peningkatan kerja sama ekonomi dan strategis Pyongyang dengan Moskow.
Jembatan Sepanjang 3 Kilometer Gantikan Jalur Lama Jembatan Sungai Yalu Baru memiliki panjang sekitar 3 kilometer dengan dua jalur kendaraan. Infrastruktur ini menghubungkan Kota Dandong di wilayah perbatasan China dengan Sinuiju di Korea Utara.
Diduga Pasang Alat Perekam Tersembunyi Jembatan tersebut dirancang untuk menggantikan Jembatan Persahabatan China-Korea yang sudah tua dan hanya memiliki satu jalur sebagai rute utama perdagangan melalui jalan raya antara kedua negara.
Kehadiran infrastruktur baru ini diharapkan meningkatkan kapasitas konektivitas darat sekaligus memperlancar arus barang lintas perbatasan. Meski demikian, peningkatan kerja sama ekonomi dengan China masih menjadi persoalan yang sensitif bagi Pyongyang.
Korea Utara selama ini berupaya menghindari ketergantungan ekonomi yang terlalu besar terhadap Beijing, meskipun China merupakan mitra dagang utamanya.
Cho Han-bum, peneliti senior di Korea Institute for National Unification di Seoul, menilai penundaan pembukaan jembatan lebih lanjut berpotensi menimbulkan ketegangan yang tidak diinginkan bagi kedua negara. “Dalam hubungan Korea Utara dan China, selalu ada sikap saling waspada sekaligus kerja sama,” kata Cho.
Sumber: Reuters