Viral Gejala Varian Baru Corona Dimulai dari Diare dan Tak Terdeteksi PCR, Ini Klarifikasinya

Disediakan oleh Kompas.com Tangkapan layar unggahan soal gejala Covid-19 varian baru unik dimulai dari diare
Informasi terkait varian virus corona B.1.1.7, B.1.6.17, dan B.1.351 masih beredar di WhatsApp Group. Salah satu berita Kompas.com pun dicatut dalam unggahan tersebut.
Dari penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com yang tayang 22 Mei 2021, klaim dalam informasi tersebut perlu diluruskan
Narasi yang beredar:
Kepada teman-teman yang cari nafkah di bidang yang sering “bertemu dengan orang”, varian baru yang ditemukan di India (B 1617) memiliki gejala yang unik tidak menimbulkan panas tapi virus varian baru ini menyerang langsung ke paru-paru.
Tes-tes yang ada (rapid, swab antigen maupun swab PCR), semua hasilnya negatif, hanya LDCT (low dose CT Scan paru) Scan paru-paru yang bisa mendeteksi varian baru ini.
Biasanya langsung sesak napas dan 1~2 hari meninggal dunia.
Virus mematikan ini sudah ditemukan di Bali (B1351), Jakarta(B1617/B117),
Sumber informasi: https://nasional.kompas.com/read/2021/05/03/16035411/kemenkes-varian-b117-b1617-dan-b1351-sudah-masuk-indonesia?page=all
Gejala:
1. Diare.
2. Swab & PCR negatif.
3. Hari ke 3 diare makin parah.
4. Sesak nafas / nafas tersengal-sengal
4. CT scan paru hasilnya berwarna putih semua.
5. Setelah paru-paru menjadi putih,biasanya 1-2 hari kemudian meninggal.
Mari sama-sama ketatkan prokes :
1. Memakai Masker
2. Mencuci Tangan
3. Menjaga Jarak
4. Menjauhi Kerumunan
5. Mengurangi Mobilitas
Sayangi diri Anda, Sayangi Keluarga Anda, dan Sayangi Negeri ini.
Konfirmasi
Diberitakan Kompas.com (22/5/2021),
Epidemiolog Universitas Griffith Dicky Budiman mengatakan ada informasi yang benar dan tidak benar dalam unggahan tersebut, sehingga perlu diluruskan.
“Untuk yang varian India ini memang lebih banyak menyebabkan sesak lebih berat, namun tidak semuanya tidak terdeteksi. PCR ini kan ada 3 tipe. Artinya informasi ini tidak seluruhnya benar, tidak seluruhnya salah,” ungkapnya pada Kompas.com, Sabtu (22/5/2021).
Terkait gejala yang disebutkan, yaitu bermula dari diare hingga akhirnya meninggal, menurut Dicky hal itu tidak benar.
Tidak semua pasien yang terinfeksi varian baru dimulai dari diare, sesak napas, lalu meninggal dalam waktu singkat.
“Mengenai gejala ini tidak spesifik gejala untuk Covid-19, kalau diare langsung, nggak begitu. Kadang ada yang demam, ada yang sesak, gangguan pencernaan,” kata Dicky.
Gejala bisa berbeda atau beragam, tapi masih berkisar pada gejala umum Covid-19.
Dia menyebutkan gejala umum itu antara lain demam, gangguan penciuman, pegal seperti saat flu, dan sebagainya.
Terkait gejala unik dari varian yang ditemukan di India (varian B.1.617 atau varian Delta), ada 3, yakni:
  • batuk terus menerus sampai satu jam,
  • kadang dalam satu hari ada 3-4 episode batuk terus menerus
  • mulut kering konjungtivitis atau mata merah.
Dari gejala-gejala yang muncul itulah dokter akan melakukan pemeriksaan, baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lewat laboratorium.
Selain itu akun Facebook Jarot Setiawan mencatut pemberitaan Kompas.com agar terlihat valid.
Dalam berita yang dicantumkan oleh akun Facebook Jarot Setiawan hanya memuat informasi tentang 3 varian virus corona dari luar negeri yang telah masuk ke Indonesia. Ketiganya yakni varian B.1.1.7 asal Inggris, varian mutasi ganda B.1.617 asal India, serta B.1.351 yang berasal dari Afrika Selatan.
Akan tetapi dalam berita tidak disebutkan informasi lainnya seperti gejala Covid-19 pada varian baru dan tes yang bisa mendeteksi.
Dihubungi terpisah, Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS UNS Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan bahwa kendati ada varian yang lebih mampu menghindari sistem imun, jejaknya masih bisa terdeteksi tes antigen/PCR.
Disediakan oleh Kompas.com Variant of concern WHO. 4 varian paling diperhatikan di dunia, salah satunya karena paling mudah menular.
“Cara PCR mendeteksi virus Covid, menggunakan pengenalan target gen. Mudahnya susunan dari 4 ‘huruf’ ACTG. Varian virus masih bisa terdeteksi karena dua alasan,” tutur Tonang.
Pertama, walaupun ada perubahan dari susunan ACTG, tapi sampai batas tertentu, PCR masih bisa membacanya. Kecuali kalau perubahanya sudah begitu kompleks.
Kedua, PCR untuk tes covid menggunakan target tidak hanya 1 gen. WHO mensyaratkan minimal 2 target gen. Bahkan kadang sampai 3 target.
“Maka seandainya terjadi mutasi pada gen S, masih ada target lain yang rendering tidak signifikan mutasinya. Di Indonesia, hampir semua tidak menggunakan target gen S. Rata-rata menggunakan target N, E, RdRp dan Orf1ab. Maka sampai saat ini masih mampu mendeteksi adanya varian tersebut,” ungkap Tonang.
Fakta varian virus corona B.1.1.7, B.1.6.17, dan B.1.351
Varian virus corona B.1.1.7 atau varian Alpha
Varian B.1.1.7 atau disebut varian Alpha pertama kali diidentifikasi di wilayah Kent, Inggris pada September 2020.
Alpha merupakan varian virus corona SARS-CoV-2 pertama yang paling mengkhawatirkan peneliti Amerika Serikat.
Varian ini pun dimasukkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam kategori variant of concern atau paling mengkhawatirkan di dunia karena mampu memasuki sel manusia dengan lebih mudah dan lebih menular dibanding varian asli.
Artinya, jika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel virus corona di dalamnya, maka partikel itu akan lebih mungkin menginfeksi beberapa sel di sinus atau hidung, dan akhirnya masuk ke paru-paru.
Analisis data gejala yang dilakukan peneliti dari King’s menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam jenis gejala, keparahan, atau durasi penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh varian virus corona B.1.1.7.
Sementara dilansir dari New York Times (19/6/2021), ahli virus di University College London, Inggris Gregory Towers mengatakan bahwa varian Apha memiliki gejala khas dibanding varian pertama yang muncul di Wuhan pada Desember 2019.
Gejala yang khas itu adalah batuk berlendir dan mengeluarkan lendir dari mulut serta hidung.
“Orang yang terinfeksi varian Alpha memiliki reaksi lebih kuat dibanding varian lain. Mereka batuk dan mengeluarkan lendir yang mengandung virus, tidak hanya dari mulut tapi juga hidung,” kata Towers.
2. Varian B.1.617 atau varian Delta
Varian B.1.617 yang kemudian disebut varian Delta pertama kali dilaporkan di India.
Varian Delta dimasukkan WHO ke kategori variant of concern karena jangkauan infeksinya yang jauh lebih luas dibanding varian lain. Dengan kata lain, Delta jauh lebih menular dari varian virus corona yang diketahui hingga saat ini.
Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Tjandra Yoga Aditama juuga mengatakan, varian Delta membuat penyakit lebih berat dan parah
Melansir corona.jakarta.go.id, beberapa gejala tersebut kemungkinan masih dialami oleh orang yang terinfeksi varian Delta. Namun, terdapat gejala-gejala tambahan yang dialami oleh penderita varian Delta, seperti:
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung tersumbat atau pilek
  • Mual atau muntah
  • Diare
  • Sakit perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Gangguan pendengaran
  • Pembekuan darah
  • Gangren (kematian jaringan tubuh)
  • Kehilangan fungsi indera penciuman dan perasa.
Disebutkan oleh BBC, studi Zoe Covid Symptom mengungkapkan bahwa varian Delta dapat terasa seperti flu yang lebih buruk bagi orang muda. Meskipun kelompok ini tidak merasa sakit parah, tetap bisa menular dan membahayakan orang lain.
Menurut The Washington Post, peneliti mengungkapkan bahwa varian Delta sekitar 50 persen lebih menular dibandingkan varian Alpha, yang pertama kali teridentifikasi di Inggris.
3. Varian B.1.351 (varian Beta)
Varian baru Beta ini pertama kali muncul di Afrika Selatan, dan disebut dengan B.1.351 pada awal ditemukannya.
Mengutip Kompas.com, 3 Mei 2021, varian Beta memiliki pola mutasi berbeda, yang menyebabkan lebih banyak perubahan pada struktur protein spike milik virus corona.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, varian Beta diduga memengaruhi penurunan efikasi vaksin Covid-19.
Adapun, gejala umum yang diakibatkan oleh infeksi varian Beta ini diketahui tidak jauh berbeda dari varian awal. Berikut beberapa gejala khusus varian Beta:
  • Demam
  • Indera penciuman hilang
  • Sakit kepala
  • Batuk terus-menerus
  • Sakit perut
  • Sakit tenggorokan
Melansir BBC, 13 April 2021, mutasi pada varian Beta, yang disebut E484K, dapat meningkatkan peluang virus menghindari sistem kekebalan seseorang, dan dapat memengaruhi seberapa efektif vaksin virus corona bekerja.
Sumber: Kompas.com (Mela Arnani, Ellyvon Pranita / Rizal Setyo Nugroho, Berstari Kumala Dewi, Gloria Setyvani Putri, Tim Cek Fakta)
TEAM SOSIAL MEDIA INFO NUSANTARA

China ajak AS jadi mitra dan sahabat

Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia China ajak AS jadi mitra dan sahabat Presiden China Xi Jinping (ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China) Beijing  – Presiden China Xi Jinping

Read More »

Share this: