Pandemi Covid-19 sudah berlangsung cukup lama, bahkan hampir 2 tahun melanda negeri bahkan dunia. Banyak peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi pada masa ini. Sekolah-sekolah ditutup, mal, hotel dan tempat-tempat wisata dilarang beroperasi secara normal.
Sehingga banyak pengurangan pekerja di sektor tersebut. PHK terjadi dimana-mana, orang-orang kehilangan pekerjaannya. Bahkan beberapa bulan lalu, berita kematian hampir tiap hari terjadi diberbagai tempat.
Kematian berarti kehilangan selama-lamanya orang yang disayang, entah itu sahabat, sanaksaudara, anak, orang tua atau bahkan pasangan.
Kehilangan itu merupakan suatu peristiwa yang tidak menyenangkan, baik kehilangan pekerjaan ataupun kehilangan orang-orang yang di sayang. Kehilangan sebenarnya hal yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.
Namun kesedihan bagi orang yang mengalami kehilangan sangat berbeda-beda. Ada yang cukup hanya menangis saja tapi ada pula yang sampai mengalami stress, frustrasi bahkan hingga depresi. Ada yang segera pulih seperti sedia kala, ada pula yang mebutuhkan waktu cukup lama.
Sedangkan hidup terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita dalam menghadapi kesulitan hidup. Untuk itu kesadaran diri atau Self Awareness sangat dibutuhkan supaya kita bisa segera bangkit dari keterpurukan dari akibat kehilangan.
Mengapa self Awereness penting, karena menurut Daniel Goleman (1996) mempunyai ciri antara lain;
1. Paham mengenai apa yang ia rasakan saat ini dan mengetahui apa yang menyebabkan perasaan tersebut muncul.
2. Paham bahwa perasaan itu bisa menjadi penolong atau menjadi penghambat tindakan selanjutnya.
3. Paham dan punya kesadaran bagaimana orang lain menilai dan memandang dirinya.
4. Paham akan SWOT ( Strenght, weakness, opportunity, threat) dirinya sendiri.
5. Mempunyai kepercayaan diri yang baik Self Awareness merupakan suatu kesadaran dalam memahami sifat, perilaku dan perasaan diri sendiri.
Sehingga orang yang memiliki self-awareness akan lebih bisa mengetahui akan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Self Awarenessjuga bisa disebut dengan nama metakognisi dan metamood, yaitu kesadaran mengenai proses berpikir dan juga kesadaran mengenai emosinya.
Metakognisi menyebabkan individu bisa mengontrol aktivitas kognitifnya sedangkan metamood sebagai dasar dari kecerdasan emosional untuk memahami diri sendiri. Hal ini sangat berpengaruh terhadap penerimaan diri terhadap kehilangan.
Sebagai gambaran seseorang yang bisa mengontrol metakognisi dan metamoodnya dalam memaknai kehilangan. Seseorang bisa menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini ada masa berlakunya. Seperti halnya obat ada masa kadaluarsanya, seperti simcard ada masa aktifnya.
Apapun yang hilang pada diri kita memang waktunya sudah selesai untuk bersama atau dimiliki. Dengan metamood yang dimiliki seseorang akan lebih bisa mengontrol emosi nya, yaitu harus merelakan jika memang sudah pada masanya tidak bersama atau memilikinya lagi.
Seperti halnya percaya bahwa yang hilang akan digantikan yang lebih baik. Ibaratnya sepatu usang jika menginginkan yang lebih baik maka yang lama harus dibuang untuk digantikan yang baru. Self awareness yang baik tidak terjadi secara tiba-tiba namun bisa diciptakan dan dilatih.
Ada beberapa perilaku yang bisa dilakukan umtuk meningkatkan self awareness dan lebih bisa memaknai akan kehilangan, antara lain:
1. Mengevaluasi diri sendiri Evaluasi diri perlu dilakukan untuk mengetahui akan perbuatan yang telah dilakukan. Apa saja kekurangan atau kesalahan yang telah dilakukan. Mengidentifikasi kesalahan tersebut bisakah diperbaiki dikemudian hari. Sehingga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Seperti halnya seseorang yang kehilangan pekerjaan tentunya tidak akan melakukan kesalahan yang sama penyebab dikeluarkannya dari pekerjaan yang lama. Atau seseorang yang kehilangan barang akibat terjatuh, maka tidak akan ceroboh meletakkan barang agar tidak hilang.
2. Maafkan diri sendiri Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Perlu untuk memaafkan diri ketika berbuat salah, jadikan itu sebuah pengalaman, meskipun pahit. Jangan terus merasa bersalah karena akan semakin membuat kita terpuruk pada kesedihan.
3. Meditasi Memusatkan pikiran pada kondisi yang sedang terjadi disertai dengan mengatur pola pernapasan. Tubuh akan merasa lebih rileks, tenang,dan pikiran juga lebih bisa focus terhadap apa yang terjadi. Sehingga kita bisa menyadari keadaan diri untuk mengambil keputusan yang lebih tepat.
4. Mendekatkan diri pada Sang Pencipta Manusia ada karena ada yang menciptakan seperti halnya dunia dan seisinya. Semua telah diatur sesuai dengan kehendak-Nya. Saat kita semakin mendekatkan diri dengan Sang Pencipta maka pikiran dan hati lebih tenang serta lebih menyadari akan hakikat kita sebagai manusia Semakin seseorang mempunyai kesadaran diri yang baik maka semakin mudah memaknai kehilangan dan lebih bisa segera melanjutkan kehidupan. (imr)
Rujukan : – Koeswara,E. 1987. Psikologi Eksistensial Suatu Pengantar. Bandung: Eresco – Akbar, M. Yudi Ali, Rizqi maulida Amalia, Izzatul Fitriah. Hubungan Religiusitas dengan Self-Awereness Mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam ( Konseling) UAI. Jurnal AL AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA, vol 4. No 4, September 2018 – Bratton, Virginia K., Nancy G. Dodd, and F. William Brown. 2012. The Impact of Emotional Integence on Occuracy of Self-Awereness and Leadership Personal.Leadearship and Organization Development Journal 32, No 2 ( March, 2011): 127-149. doi: 10.1108/01437731111112971. – Nuril, Alya Azra Ananda .2020. Pentingnya Self Awareness Kesehatan Mental dan Growth Individu di Masyarakat. DOI:10.31234/osf.io/zybs8 – Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blg/click-here happiness/201903/what-is-self-awereness-and-how-do-you-get-it. Diakses 27 September 2021 – https://www.senoworker.com/2020/11/pengerttian-dan-manfaat-self-awareness.html – https://www.hipwee.com/list/memaknai-kehilangan/
Oleh Sukesi