Indonesia sukses mengendalikan pandemi penyakit virus corona (Covid-19) saat negara-negara lain masih mengalami kenaikan kasus. Hal tersebut tentunya menjadi kabar bagus bagi perekonomian Republik Indonesia (RI).
Tetapi, ancaman dari luar negeri masih banyak, apalagi muncul virus corona varian Omicron yang membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan perlu adanya antisipasi untuk memitigasi dampaknya.
“Orang juga takut dengan tapering off, dan bingungnya negara-negara sekarang ini berkaitan dengan global supply chain dan ketergantungan kita pada satu, dua, tiga negara. Dan juga kesulitan kontainer hampir semua ini disrupsi yang mengacaukan,” kata Jokowi saat berbicara dalam Kompas CEO Forum 18 November lalu.
Masalah ketergantungan, China bisa memberikan masalah bagi Indonesia jika perekonomiannya mengalami kemerosotan. Bahkan, sempat beredar kecemasan China akan mengalami stagflasi, alias melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga stagnan dengan inflasi yang tinggi.
Ketika perekonomian China memburuk, maka Indonesia juga akan terkena dampaknya. Maklum saja, Negeri Tiongkok merupakan pangsa pasar ekspor terbesar Indonesia, begitu juga dengan impor yang besar dari China.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non-migas Indonesia ke China pada periode Januari-Oktober mencapai US$ 40,6 miliar, mengalami kenaikan hingga 74% dari periode yang sama tahun 2020.
Nilai tersebut berkontribusi sebesar 23% dari total ekspor Indonesia. Kontribusi tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan Amerika Serikat, yakni 11%, yang berada di urutan kedua negara tujuan ekspor RI.
Artinya, China merupakan pangsa ekspor terbesar Indonesia, ketika perekonomian stagnan ada risiko demand akan menurun, yang berdampak pada industri di dalam negeri.
Kemudian impor dari China lebih krusial lagi. Sejak tahun 1990, nilai impor dari China nyaris selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya. Penurunan tajam baru terjadi pada tahun lalu.