Prancis menyatakan tidak ikut bergabung dengan boikot diplomatik Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, seperti diumumkan Presiden Emmanuel Macron pada hari Kamis (9/12/2021), menyebut langkah seperti itu “tidak signifikan”.
“Untuk lebih jelasnya: Anda memboikot total, dan tidak mengirim atlet, atau Anda mencoba mengubah keadaan dengan tindakan yang bermanfaat,” kata Macron pada konferensi pers Kamis, menambahkan bahwa ia “mendukung tindakan yang membawa hasil yang bermanfaat.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan dia masih mencari sikap bersama UE tentang masalah ini ketika ditanya tentang kemungkinan boikot selama konferensi pers pada waktu yang hampir bersamaan.
“Ketika menyangkut masalah boikot diplomatik, pertanyaan ini akan ditangani di tingkat Eropa,” katanya kepada wartawan, seperti dikutip dari France 24, Jumat (10/12/2021).
Kelompok-kelompok advokasi mendukung upaya yang dipimpin AS, dengan direktur Human Rights Watch China Sophie Richardson menyebutnya sebagai “langkah penting untuk menantang kejahatan pemerintah Cina terhadap kemanusiaan yang menargetkan Uyghur dan komunitas Turki lainnya.”
Namun juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Kamis mengatakan Sekjen PBB akan menghadiri pertandingan Beijing.
Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Kanada sudah mengeluarkan pernyataan untuk memboikot pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2022.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin, Kamis, menyatakan pelaksanaan Olimpiade ini tetap akan berjalan sukses terlepas dari atlet-atlet dari empat negara tersebut hadir atau tidak.
“Olahraga tidak ada hubungannya dengan politik,” kata Wang. “Olimpiade adalah kontes untuk atlet dan penggemar olahraga, bukan panggung bagi politisi untuk tampil.”
“AS, Australia, Inggris, dan Kanada menggunakan Olimpiade untuk manipulasi politik mereka. Perilaku seperti itu tidak populer dan mengasingkan diri. Mereka pasti akan membayar harga untuk kesalahan mereka,” kata Wang, seperti dikutip dari Ecns, Jumat oleh RRI.co.id