Putin Perintahkan Pasukan Penangkal Nuklir Dalam Siaga Tinggi

Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan penangkal nuklir Rusia untuk waspada atau di posisi siaga tinggi. Instruksi itu disampaikannya menjelang sesi khusus darurat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang jatuh pada hari Senin 28 Februari, yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan diplomatik pada Moskow atas invasi ke Ukraina.

Putin mengatakan kepada Menteri Pertahanan Rusia untuk menempatkan pasukan nuklir dalam rezim khusus tugas tempur. Pemimpin negeri beruang merah ini juga menekankan bahwa NATO telah membuat pernyataan agresif dengan memberlakukan sanksi keuangan mengenai ulah Rusia yang menyerang Ukraina.

Setelah pemungutan suara untuk sesi khusus PBB, Duta Besar Amerika Serikat (AS) Linda Thomas-Greenfield menegaskan sebaliknya bahwa Rusia tidak berada di bawah ancaman dari NATO.

“Ini adalah langkah eskalatoris dan tidak perlu mengancam kita semua. Kami mendesak Rusia untuk mengurangi retorika berbahayanya mengenai senjata nuklir,” kata Linda, dikutip dari VOA News, Senin, 28 Februari 2022.

Seorang pejabat senior pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan Rusia untuk menempatkan pangkalan nuklir dalam siaga tinggi adalah tindakan berlebihan yang seharusnya tidak perlu dilakukan.

“Kami yakin bahwa kami memiliki kemampuan untuk membela tanah air dan membela sekutu serta mitra kami, dan itu termasuk melalui pencegahan strategis,” kata pejabat itu.

Uni Eropa Kirim Jet Tempur ke Ukraina

Sebelumnya, Uni Eropa mengirim jet tempur ke Ukraina untuk melawan militer Rusia. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borell mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya menyediakan persenjataan untuk berperang.

“Kami tidak berbicara tentang amunisi saja. Kami menyediakan senjata yang lebih penting untuk berperang,” ujar Borell.

Pasukan Rusia terus memerangi pasukan pertahanan Ukraina dan tentara warga untuk menguasai ibu kota Kiev dan kota-kita lainnya pada hari Minggu. Pejabat senior pertahanan Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa pasukan Rusia tetap berada sekitar 30 kilometer dari pusat Ibu Kota Ukraina.

“Kami tidak memiliki indikasi bahwa militer Rusia telah menguasai kota mana pun, namun pasukan Rusia tetap berada sekitar 30 kilometer dari pusat ibu kota Ukraina,” ujarnya.

Sampai hari Minggu, Rusia hanya mengirim sekitar dua pertiga dari lebih dari 150.000 tentara Rusia yang telah dikerahkan di sekitar Ukraina, menurut pejabat itu. Pasukan Rusia pada Minggu pagi juga telah meluncurkan lebih dari 320 rudal ke Ukraina, tetapi indikasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan beberapa peluncuran rudal dinilai gagal.

TIM SOSIAL MAJALAH INFO NUSANTARA

GROUP KOMUNITAS KALBAR

Share this: