Tidak ada yang benar-benar berharap bahwa kongres ini akan berujung pada hal lain, selain kelanjutan Xi sebagai “inti” Partai Komunis.
Apalagi, tim barunya dipenuhi dengan loyalis Xi. Tidak satu orang pun yang masuk ke dalam tim itu memiliki sudut pandang berbeda dengan Xi walau hanya sedikit.
Di satu sisi, keputusan yang paling tidak biasa adalah menunjuk Li Qiang sebagai Perdana Menteri, pemimpin nomor dua di negara itu, dan akan bertanggung jawab mengelola perekonomian China.
Penunjukan Li Qiang telah memberi sinyal bahwa kesetiaan terhadap Xi Jinping lebih penting dibanding kemampuan. Sebab, Li Qiang adalah orang yang bertanggung jawab atas kebijakan karantina wilayah (lockdown) di Shanghai yang berujung bencana karena kurangnya suplai pangan bagi puluhan juta orang.
Untuk semua kesalahan-kesalahannya yang lain, Partai Komunis China membanggakan partainya sendiri sebagai meritokrasi, namun penunjukan Li tampak mengabaikan itu.
Yang lebih buruk, bagi sebagian orang, Xi yang juga merupakan sekretaris jenderal partai, sebenarnya tidak memiliki pemahaman yang kuat soal perekonomian dan apa yang diperlukan untuk mencapainya. Dia bahkan tidak memandangnya sebagai prioritas.
Bagi Xi, disiplin partai dan dukungan nasionalis untuk negara saat dia berkuasa adalah yang utama, sedangkan hal-hal lainnya menjadi nomor dua.
Terlepas dari dampak besar yang muncul akibat kebijakan nol Covid terhadap mata pencaharian masyarakat, penguatan atas komitmen teguh terhadap kebijakan itu, tanpa jalan keluar yang jelas, tampaknya mengonfirmasi pandangan itu.
Juga, sekali lagi, tidak ada perempuan di antara tujuh orang anggota komite yang berada di puncak kekuasaan China ini.
Tidak pernah ada seorang perempuan di dalam komite ini dan Xi Jinping pun tidak mematahkan kondisi itu. Satu-satunya pengecualian adalah Mao dalam periode Geng Empat, tetapi posisi itu pun tidak resmi.
Ini akan mengecewakan banyak pihak, namun tidak mengejutkan.
Inilah orang-orang yang berada di pusaran kekuasaan di China, dipimpin oleh Presiden Xi Jinping.