Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

Di saat Dunia Persiapkan Aset Beratnya Respons Kekuatan Militer China, Jakarta Cukup Ajak Beijing Berunding

Indonesia mengambil jalan berdiplomasi bicarakan isu kawasan dengan China

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kekuatan militer China begitu meningkat pesat, dan itulah yang mencuri perhatian dunia.

Kekuatan China yang seperti tidak terbendung, sengaja atau tidak telah membuat dunia Barat ketar-ketir.
Beberapa kali Amerika dan sekutu-sekutunya ingin membungkam China, namun sepertinya upaya mereka tidak akan mudah.
Salah satu upaya Barat baru-baru ini adalah menjalankan latihan gabungan antara negara pada 7 Mei lalu.

Beberapa kapal perang Amerika dan mitra-mitranya di Indo-Pasifik terlihat berlayar bersama di wilayah itu.
“Amerika dengan mitra-mitranya mengerahkan kapal-kapal perangnya di wilayah Indo-Pasifik”, jelas Eurasian Times pada 8 Mei 2024.

Sudah ada beberapa kapal perang yang terkonfirmasi, seperti Jerman, Italia, Prancis, Spanyol dan tentu saja Amerika Serikat.

Sekedar informasi, kapal-kapal perang itu berlayar menuju Hawaii untuk ikuti serangkaian latihan maritim Rim of the Pacific (RIMPAC) yang akan berjalan mulai 29 Juni sampai 4 Agustus mendatang.
Tidak hanya aset laut, beberapa negara seperti Jerman dan Prancis juga akan boyong pesawat militernya macam pesawat kargo hingga jet tempur.

Melihat dari kacamata telanjang, tujuan RIMPAC adalah untuk mempertemukan negara-negara mempererat hubungan kemitraan melalui serangkaian pelatihan.
“Ada pertumbuhan luar biasa dalam kemitraan antar-negara. Banyak negara terus berdatangan untuk ikut bergabung dalam latihan ini”, ucap koordinator RIMPAC, Letnan Cmdr Angkatan Laut Australia, Timotius Gill
Selain negara-negara di atas, paling tidak akan ada 26 negara yang ikuti latihan maritim terbesar di dunia itu.

Mereka adalah Australia, Brunei, Kanada, Chili, Kolombia, Denmark, Ekuador, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Israel, Jepang, Malaysia, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Peru, Republik Korea, Filipina, Singapura , Sri Lanka, Thailand, Tonga, Inggris, dan Amerika.
Namun secara tak kasat mata, ada tujuan lain dari RIMPAC kali ini, yaitu yang berkaitan dengan gejolak geo-politik.

Barat sadar betul dunia sedang keos, mulai dari perang di Ukraina, Timur Tengah, dan tak lupa agresi China di Indo-Pasifik.

“Eropa untuk pertama kali mengidentifikasi China sebagai sebuah tantangan keamanan dan mengakui pentingnya mengatasi keamanan global”, jelas Gorana Grgić, Peneliti Senior di Tim Keamanan Swiss dan Euro-Atlantik di Pusat Studi Keamanan (CSS).

“Beberapa negara lainnya, seperti Australia, Selandia Baru, Jepang, dan Korea Selatan kini memiliki perjanjian dengan NATO untuk memperdalam kerja sama”, ucap Komunike NATO yang dengan keras mengungkap keprihatinannya terhadap Tiongkok.
Melihat kejadian di atas, ada kemungkinan NATO akan bergerak menuju Indo-Pasifik untuk merespons kekuatan China.

Tapi di saat Barat bahkan dunia melihat China dengan kacamata negatif dan meresponsnya juga dengan perlawanan, Indonesia punya caranya sendiri
Menolak cara kasar, Indonesia punya cara yang relatif lebih aman membicarakan isu kawasan dengan China.
Tepat pada 23 April 2024, Kepala Staf AL (KASAL) Laksamana Muhammad Ali ikuti forum diskusi “19th Western Pacific Naval Symposium (WPNS)” yang diadakan di Qingdao, China.

WPNS sendiri merupakan forum yang beranggotakan AL negara-negara di Pasifik-Barat maupun sekitarnya.

Sementara WPNS 2024 kali ini diikuti oleh 29 pejabat AL dunia, seperti AS, Australia, Bangladesh, Belanda, Brunei Darussalam, Chile, Ekuador, Fiji, India, ⁠Indonesia, ⁠Jepang, Kamboja, Kanada, Kolombia, ⁠Korea Selatan, Malaysia, ⁠Meksiko, ⁠New Zealand, Pakistan, ⁠Papua Nugini, Perancis, Peru, Rusia, ⁠Singapura, ⁠Sri Lanka, Thailand, ⁠Tonga, United Kingdom, dan ⁠Vietnam.

Pada kesempatan itupun KASAL tekankan pentingnya menjaga perdamaian antara negara-negara kawasan.
“Penting untuk kita menjaga kolaborasi di antara negara-negara kawasan untuk mengatasi masalah, terutama soal tantangan keamanan maritim global yang semakin meningkat”, ucapnya, dikutip Dispenal pada tanggal yang sama.

KASAL juga menekankan bahwa TNI AL berkomitmen untuk menjaga stabilitas dan keamanan maritim di kawasan.

Indonesia sadar betul isu Indo-Pasifik maupun Laut China Selatan adalah pembahasan yang sensitif, oleh sebab itu memakai jalan damai dan berdiplomasi adalah cara paling benar.


Sumber: ZONAJAKARTA.com

Nusantara Florist & Grafis HP/WA.0812 88729 886 - 0851 7431 3368

Share this: