Saat ditanya mengenai dampak negatif bagi Beijing karena berbicara lebih tegas saat ini, Pan mengatakan risikonya masih dapat dikelola, setidaknya untuk saat ini.
“Selama China tidak mengerahkan pengawalan angkatan laut atau terlibat langsung dalam konflik, risikonya relatif terbatas,” ujarnya.
Pan mengatakan, hasil yang paling diharapkan China dalam konflik Timur Tengah adalah gencatan senjata melalui negosiasi tanpa perubahan rezim dan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
“Sama pentingnya, Beijing ingin keluar dari krisis ini dengan tetap terjaganya citra mereka sebagai mediator yang kredibel,” katanya.
PENGARUH DAN KOMITMEN
Menurut para analis, semakin Beijing memposisikan diri sebagai kekuatan penstabil, maka sorotannya terhadap mereka akan semakin besar.
Publik ingin melihat apakah China pada akhirnya akan turun tangan, ketimbang sekadar mengeluarkan pernyataan. Para pengamat mencermati, China terlihat masih enggan menanggung biaya intervensi yang lebih dalam.
“Meski berhasil memediasi normalisasi hubungan Iran–Arab Saudi pada Maret 2023, China belum menjatuhkan konsekuensi kepada Iran atas serangannya terhadap Arab Saudi, dan justru memberikan dukungan militer kepada Iran, yang memperburuk keamanan Arab Saudi dan GCC (Dewan Kerja Sama Teluk),” kata Thompson dari RSIS.
“Sambungan telepon diplomatik dengan Arab Saudi tidak menciptakan perbaikan situasi dan bertentangan dengan dukungan militer serta intelijen China kepada Iran, yang memperpanjang krisis dan ketidakstabilan kawasan,” tambahnya, merujuk pada percakapan telepon Xi pada 20 April dengan putra mahkota Saudi.
Menurut laporan yang diterbitkan pada 21 April oleh Council on Foreign Relations, lembaga pemikir asal AS, China telah memberikan Iran teknologi navigasi satelit, sistem radar, dan teknologi perang elektronik sejak awal perang. Beijing berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Trump pada Selasa mengatakan bahwa sebuah kapal berbendera Iran yang dicegat AS di Teluk Oman pada Minggu membawa “hadiah” dari China untuk Iran.
Meski tidak merinci isinya, mantan duta besar AS untuk PBB Nikki Haley menulis di platform X bahwa kapal tersebut berlayar dari China ke Iran dan terkait dengan pengiriman bahan kimia untuk rudal.
China membantah tuduhan tersebut, dengan juru bicara kementerian luar negeri pada Selasa menyatakan bahwa Beijing menentang “segala bentuk pengaitan dan spekulasi yang berniat jahat”.