Kabar duka cita datang dari keluarga besar Presiden Pertama RI Soekarno, yakni istri ke-9 Soekarno, Heldy Djafar, yang meninggal dunia pada Minggu (10/10/2021) lalu di RSCM Jakarta.
Heldy meninggal dunia diduga karena penyakit berat yang dideritanya yakni gagal ginjal. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Roy Suryo yang menerima kabar ini dari pihak keluarga.
Diketahui jenazah langsung dibawa ke rumah duka di daerah BSD. Lalu siapa sosok istri dari presiden Soekarno ini, berikut rangkumannya yang dilansir dari Wikipedia, Selasa (12/10/2021).
Heldy Djafar lahir dari pasangan H Djafar dan Hj Hamiah. Ia merupakan bungsu dari sembilan bersaudara.
Ia menikah dengan Soekarno pada tahun 1966, kala itu Soekarno berusia 65 tahun sementara Heldy Djafar berusia 18 tahun. Saksinya Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.
Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu. Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto.
Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.
Akhirnya, pada tanggal 19 Juni 1968, Heldy yang berusia 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor, keturunan dari Kerajaan Banjar. Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Soekarno wafat.
Soekarno tutup usia pada tanggal 21 Juni 1970, dalam usia 69 tahun. Belakangan, satu dari enam orang anaknya, Maya Firanti Noor, menikah dengan Ari Sigit, cucu Presiden RI Soeharto.
Wanita kelahiran Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada tanggal 10 Agustus 1947 ini, hijrah ke Jakarta menyusul kakaknya untuk mencari ilmu.
Cita-cita nya menjadi seorang desainer interior. Kendati jarak antara Samarinda-Jakarta lumayan jauh, namun Heldy tak pernah surut untuk melangkahkan kakinya meraih asa. Dari Samarinda, ia menumpang kapal menuju Balikpapan.
Selanjutnya ia naik kapal laut Naira dari Pelabuhan Semayang, Balikpapan, menuju ke Surabaya ditemani kakaknya, Milot (jamilah) dan Idzhar iparnya. Selanjutnya dari Surabaya mereka menumpang kereta api menuju Jakarta dan berhenti di Stasiun Gambir. Saat kakinya kali pertama menyentuh Jakarta, Heldy merasa bangga.
Selain itu, pada tahun 1964, Yus dipercaya oleh protokol kepresidenan untuk menyiapkan barisan Bhinneka Tunggal Ika ke Istana Negara dalam rangka penyambutan tim Piala Thomas. Sumber: RRI.co.id