Peristiwa Hari Tanpa Bayangan ini bisa terjadi dua kali di Indonesia karena letak Indonesia yang berada di Khatulistiwa. Fenomena ini pernah terjadi di Jakarta pada 4 Maret 2020, peristiwa kulminasi utamanya terjadi pada Pukul 12.04 WIB. Lalu peristiwa kedua terjadi pada 8 Oktober 2020 yang mana kulminasi utamanya terjadi pada Pukul 11.40 WIB.
Selain jakarta, kota-kota lain yang merasakan fenomena Hari Tanpa Bayangan pada tahun 2020 antara lain:
kulminasi utama tahun 2020 di Indonesia terjadi antara 21 Februari 2020 di Baa
Nusa Tenggara Timur hingga 4 April 2020 di Sabang
Aceh dan 6 September 2020 di Sabang
Aceh sampai dengan 21 Oktober 2020 di Baa, Nusa Tenggara Timur.
Lalu bagaimana dengan Hari Tanpa Bayangan 2021? Simak penjelasan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berikut ini.
Dikutip dari situs resmi Lapan, Hari Tanpa Bayangan 2021 dimulai pada 6 September hingga 21 Oktober 2021. Bagaimana bisa selama itu?
Sebenarnya fenomena Hari Tanpa Bayangan berlangsung dua kali setahun di Indonesia. Yang pertama, telah terjadi pada akhir Februari sampai awal April 2021. Untuk kali ini maka fenomena tersebut dinamai sebagai Kulminasi Utama 2.
Fenomena Hari Tanpa Bayangan 2021 kali ini akan secara merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia dari Indonesia bagian barat hingga Timur. Berikut daftar rincian jadwal Hari Tanpa Bayangan 2021.
Indonesia Bagian Barat
Sabang; 6 September 2021 pada pukul 12.36 WIB
Banda Aceh; 8 September 2021 pada pukul 12.36 WIB
Medan; 13 September 2021 pada pukul 12.12 WIB
Pekan Baru; 21 September 2021 pada pukul 12.07 WIB
Tanjung Pinang; 20 September 2021 pada pukul 11.55 WIB
Padang; 25 September 2021 pada pukul 12.10 WIB
Jambi; 27 September 2021 pada pukul 11.56 WIB
Pangkal Pinang; 28 September pada pukul 11.46 WIB
Bengkulu; 2 Oktober 2021 pada pukul 12.00 WIB
Palembang; 30 September 2021 pada pukul 11.50 WIB
Bandar Lampung; 7 Oktober 2021 pada pukul 11.48 WIB
Serang; 8 Oktober, pukul 11.42 WIB
Jakarta; 9 Oktober, pukul 11.39 WIB
Bogor; 10 Oktober, pukul 11.39 WIB
Bandung; 11 Oktober, pukul 11.36 WIB
Semarang; 11 Oktober, pukul 11.25 WIB
Surabaya; 11 Oktober, pukul 11.15 WIB
Sumenep; 11 Oktober, pukul 11.11 WIB
Surakarta; 12 Oktober, pukul 11.23 WIB
Pangandaran; 13 Oktober, pukul 11.31 WIB
Yogyakarta; 13 Oktober, pukul 11.24 WIB
Banyuwangi; 14 Oktober, pukul 11.08 WIB
Nunukan; 12 September, pukul 12.07 WIB
Indonesia Bagian Tengah
Tarakan; 14 September, pukul 12.05 WITA
Tanjung Selor; 15 September, pukul 12.05 WITA
Pontianak; 23 September, pukul 11.35 WITA
Samarinda; 24 September, pukul 12.03 WITA
Balikpapan; 26 September, pukul 12.03 WITA
Palangkaraya; 28 September, pukul 11.14 WITA
Banjarmasin; 1 Oktober, pukul 12.11 WITA
Buleleng; 14 Oktober, pukul 12.05 WITA
Denpasar; 15 Oktober, pukul 12.04 WITA
Mataram; 15 Oktober, pukul 12.01 WITA
Sumbawa Besar; 15 Oktober, pukul 11.56 WITA
Labuan Bajo; 15 Oktober, pukul 11.46 WITA
Waingapu; 18 Oktober, pukul 11.46 WITA
Kupang; 19 Oktober, pukul 11.30 WITA
Rote Dao; 21 Oktober, pukul 11.31 WITA
Manado; 19 September, pukul 11.34 WITA
Majene; 2 Oktober, pukul 11.53 WITA
Kendari; 3 Oktober,pukul 11.38 WITA
Wakatobi; 6 Oktober, pukul 11.33 WITA
Makassar; 6 Oktober, pukul 11.50 WITA
Indonesia Bagian Timur
Sofifi; 21 September, pukul 12.22 WIT
Sorong; 25 September, pukul 12.06 WIT
Manokwari; 25 September, pukul 11.55 WIT
Biak; 26 September, pukul 11.46 WIT
Jayapura; 29 September, pukul 11.27 WIT
Ambon; 2 Oktober, pukul 12.16 WIT
Merauke; 14 Oktober, pukul 11.24 WIT
Disebut sebagai Transit Utama
Secara ilmiah, Hari Tanpa Bayangan disebut juga dengan istilah Transit Utama, artinya adalah matahari berada di titik zenith sebuah tempat. Artinya jika terjadi Hari Tanpa Bayangan di Nusa Tenggara Timur hingga 4 April 2020, itu berarti Matahari tengah singgah tepat di atas Nusa Tenggara Timur.
Perhitungan Eratosthenes
Hari Tanpa Bayangan bisa kita jadikan kesempatan untuk melakukan eksperimen seperti yang dilakukan oleh Eratosthenes. Eratosthenes pada sekitar 2.200-an tahun lalu memanfaatkan Hari Tanpa Bayangan untuk mengukur keliling bumi.
Pengukuran keliling bumi oleh Eratosthenes dilakukan dengan mengalikan waktu tempuh perjalanan selama 50 hari dengan kereta berkecepatan 100 stadia dari Shina ke Alexandria, yang jaraknya 800 km atau 5000 stadia. Perlu Anda ketahui bahwa Stadia merupakan arena olahraga yang dipakai masyarakat Yunani, berukuran keliling 185 meter. Singkat cerita, Eratosthenes mendapatkan hasil keliling Bumi adalah 250.000 stadia atau 46.300 kilometer.
Kalau Anda, setelah tahu definisi dari apa itu Hari Tanpa Bayangan apa yang akan Anda lakukan? melakukan eksperimen seperti Eratosthenes atau melakukan hal lain?Sumber: Lapan