Peningkatan investasi menjadi sinyal positif karena berpotensi mendorong aktivitas konstruksi, memperluas kapasitas produksi, hingga membuka lapangan pekerjaan baru.
Kabar baik lainnya datang dari industri manufaktur yang mulai menunjukkan pemulihan.
Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,2 pada Juli, kemudian turun menjadi 49,8 pada Agustus, sebelum kembali melonjak ke 52,4 pada September.
Dengan demikian, rata-rata PMI manufaktur kuartal III mencapai 50,8, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 48,7. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas industri berada di zona ekspansi.
Baca:
PMI Manufaktur RI Rekor Tertinggi 31 Bulan, Begini Respons Menperin
Survei Bank Indonesia juga memperlihatkan perkembangan serupa. PMI-BI meningkat dari 51,43% pada kuartal II menjadi 52,28% pada kuartal III-2026, terutama didorong oleh perbaikan produksi dan jumlah pesanan.
Meski demikian, pemulihan dunia usaha belum sepenuhnya merata. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) justru turun dari 12,97% menjadi 11,46%, sementara kapasitas produksi terpakai sedikit menurun dari 73,80% menjadi 73,75%.
Dengan perkembangan tersebut, investasi dan manufaktur berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, meskipun aktivitas dunia usaha secara keseluruhan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Neraca Perdagangan Berbalik Surplus, tetapi Impor Masih Tinggi
Perubahan cukup besar juga terlihat dari kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.
Setelah mencatat defisit pada kuartal II-2026, neraca perdagangan barang Indonesia kembali membukukan surplus sepanjang Juli hingga September.
Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Juli 2026 mencatat surplus tipis sebesar US$0,12 miliar.
Kondisi tersebut kemudian membaik pada Agustus dengan surplus mencapai US$3,55 miliar, sebelum kembali mencatat surplus US$3,36 miliar pada September.
Dengan demikian, sepanjang kuartal III-2026, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sekitar US$7,03 miliar.
Capaian tersebut berbalik dari kondisi kuartal II-2026 yang mengalami defisit sekitar US$1,97 miliar.