Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup Bangsa Indonesia

Siapkan Mental! Besok Ada Pengumuman Penting yang Bisa Guncang RI

Foto: Ilustrasi Tunjangan Hari Raya. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia diperkirakan masih mampu bertahan di atas 5% pada kuartal III-2026. Namun, di balik ketahanan tersebut, laju pertumbuhan ekonomi diproyeksi melambat.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 besok Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,20% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026.

Sementara secara kuartalan, ekonomi diproyeksi masih tumbuh 1,33% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Sebagai gambaran, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% yoy dan 3,73% qtq. Sementara pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61% yoy.

Apabila proyeksi sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang akan diumumkan pada Kamis (5/11/2026), maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat selama dua kuartal berturut-turut, dari 5,61% pada kuartal I menjadi 5,29% pada kuartal II, kemudian 5,20% pada kuartal III-2026.

Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang mencapai 5,04% yoy.

Menurut Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan melandai dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama akibat melemahnya konsumsi rumah tangga dan perlambatan belanja pemerintah.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh perlambatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Dia menjelaskan bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya hidup. Sementara itu, dorongan belanja pemerintah juga diperkirakan tidak sekuat kuartal sebelumnya.

“Perlambatan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh melemahnya daya beli akibat biaya hidup, sementara perlambatan belanja pemerintah terjadi karena terbatasnya stimulus yang diberikan sepanjang kuartal III,” jelasnya.

Konsumsi Masyarakat Masih Tumbuh
Konsumsi rumah tangga masih menjadi faktor yang sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Komponen ini menyumbang lebih dari separuh perekonomian nasional, sehingga perubahan daya beli masyarakat dapat berpengaruh besar terhadap hasil PDB.

Pada kuartal II-2026, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 5,06% yoy. Memasuki kuartal III, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas konsumsi masih berjalan, tetapi penguatannya belum cukup besar.

Salah satu tantangan utama datang dari kenaikan harga barang dan jasa yang terus terjadi sepanjang kuartal tiga.

BPS mencatat inflasi tahunan Indonesia meningkat dari 2,88% pada Juli menjadi 3,19% pada Agustus, kemudian mencapai 3,28% pada September 2026.

Kenaikan inflasi tersebut memperlihatkan bahwa biaya hidup masyarakat cenderung meningkat sepanjang kuartal III.

Meskipun masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1%, kenaikan harga tetap berpotensi membatasi kemampuan belanja masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah dan menengah.

Apalagi, tekanan harga yang meningkat tidak selalu diikuti oleh kenaikan pendapatan masyarakat dalam besaran yang sama.

Kondisi ini membuat masyarakat berpotensi lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, terutama untuk kebutuhan di luar barang dan jasa pokok.

Namun, kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya menghilangkan optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian.

Hal ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia.

Pada Juli 2026, IKK berada di level 116,8, kemudian meningkat menjadi 118,5 pada Agustus. Namun, pada September kembali turun tipis menjadi 118,1.

Meskipun mengalami perubahan, indeks sepanjang kuartal III masih berada di atas level 100, yang menunjukkan masyarakat secara umum tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi. Namun, tingkat keyakinan yang belum menunjukkan kenaikan konsisten juga mengindikasikan bahwa konsumen masih cukup berhati-hati dalam melihat prospek ekonomi dan kondisi keuangan mereka.

Adapun, penjualan mobil di Indonesia ternyata meningkat cukup tajam sepanjang kuartal III-2026.

Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan mobil secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer mencapai 242.412 unit sepanjang Juli-September 2026. Angka ini melonjak 31,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 184.698 unit. 

Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas industri otomotif mulai menggeliat. Meski begitu, peningkatan ini belum tentu sepenuhnya mencerminkan daya beli masyarakat karena mobil yang dikirim ke dealer belum tentu langsung terjual kepada konsumen.

Gambaran mengenai aktivitas belanja masyarakat juga dapat dilihat dari perkembangan penjualan eceran.

BI mencatat penjualan eceran tumbuh 1,1% yoy pada Juli dan meningkat menjadi 1,3% pada Agustus. Sementara untuk September, pertumbuhannya diprakirakan mencapai 1,4% yoy.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan belanja masyarakat masih berlangsung, meskipun laju pertumbuhannya relatif terbatas.

Artinya, meskipun masyarakat tetap melakukan konsumsi, belum terlihat adanya lonjakan belanja yang cukup besar untuk menjadi pendorong utama percepatan pertumbuhan ekonomi.

Sinyal konsumsi yang belum terlalu kuat juga terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan.

BI mencatat kredit konsumsi pada September 2026 tumbuh 4,86% yoy, jauh lebih rendah dibandingkan kredit investasi yang melonjak 23,20%.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pembiayaan perbankan lebih banyak ditopang oleh kegiatan investasi dibandingkan konsumsi rumah tangga.

Dengan kondisi tersebut, konsumsi masyarakat diperkirakan masih menjadi penopang utama perekonomian, tetapi kemampuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi masih perlu dicermati.

Investasi Meningkat, Industri Manufaktur Mulai Bangkit
Di tengah konsumsi masyarakat yang belum terlalu kuat, investasi justru menunjukkan perkembangan positif sepanjang kuartal III-2026.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini juga meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp511,8 triliun.

Dari total tersebut, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp270,2 triliun, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp258,5 triliun. Investasi tersebut juga berhasil menyerap 745.634 tenaga kerja.

Peningkatan investasi menjadi sinyal positif karena berpotensi mendorong aktivitas konstruksi, memperluas kapasitas produksi, hingga membuka lapangan pekerjaan baru.

Kabar baik lainnya datang dari industri manufaktur yang mulai menunjukkan pemulihan.

Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,2 pada Juli, kemudian turun menjadi 49,8 pada Agustus, sebelum kembali melonjak ke 52,4 pada September.

Dengan demikian, rata-rata PMI manufaktur kuartal III mencapai 50,8, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 48,7. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas industri berada di zona ekspansi.

Baca:
PMI Manufaktur RI Rekor Tertinggi 31 Bulan, Begini Respons Menperin
Survei Bank Indonesia juga memperlihatkan perkembangan serupa. PMI-BI meningkat dari 51,43% pada kuartal II menjadi 52,28% pada kuartal III-2026, terutama didorong oleh perbaikan produksi dan jumlah pesanan.

Meski demikian, pemulihan dunia usaha belum sepenuhnya merata. Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) justru turun dari 12,97% menjadi 11,46%, sementara kapasitas produksi terpakai sedikit menurun dari 73,80% menjadi 73,75%.

Dengan perkembangan tersebut, investasi dan manufaktur berpotensi menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, meskipun aktivitas dunia usaha secara keseluruhan masih menghadapi sejumlah tantangan.

Neraca Perdagangan Berbalik Surplus, tetapi Impor Masih Tinggi
Perubahan cukup besar juga terlihat dari kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

Setelah mencatat defisit pada kuartal II-2026, neraca perdagangan barang Indonesia kembali membukukan surplus sepanjang Juli hingga September.

Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan Juli 2026 mencatat surplus tipis sebesar US$0,12 miliar.

Kondisi tersebut kemudian membaik pada Agustus dengan surplus mencapai US$3,55 miliar, sebelum kembali mencatat surplus US$3,36 miliar pada September.

Dengan demikian, sepanjang kuartal III-2026, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sekitar US$7,03 miliar.

Capaian tersebut berbalik dari kondisi kuartal II-2026 yang mengalami defisit sekitar US$1,97 miliar.

Perbaikan neraca perdagangan menjadi perkembangan positif setelah sektor eksternal menghadapi tekanan cukup besar pada kuartal sebelumnya.

Kinerja ekspor juga terus menunjukkan peningkatan. Pada September 2026, nilai ekspor mencapai US$27,59 miliar atau tumbuh 11,87% dibandingkan September tahun lalu.

Namun, pertumbuhan impor ternyata masih lebih tinggi.

Pada bulan yang sama, impor mencapai US$24,23 miliar, meningkat 18,41% yoy. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan barang dari luar negeri masih tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Sepanjang Januari-September 2026, total ekspor Indonesia tercatat tumbuh 5,58% yoy, sedangkan impor meningkat jauh lebih tinggi sebesar 19,67%.

Tingginya impor dapat mencerminkan kebutuhan bahan baku, barang modal, maupun barang konsumsi.

Karena itu, kenaikan impor tidak selalu menunjukkan kondisi ekonomi yang memburuk, terutama apabila digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.

Namun, dari sisi perhitungan PDB, impor merupakan komponen pengurang dalam pembentukan ekspor neto.

Dengan demikian, meskipun neraca perdagangan barang kembali surplus, kontribusi sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi masih bergantung pada perkembangan volume ekspor dan impor barang serta jasa secara keseluruhan.

Belanja Pemerintah Meningkat Tajam
Selain konsumsi dan investasi, belanja pemerintah juga berpotensi menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja negara sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun, meningkat 19,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2.234,8 triliun.

peningkatan paling mencolok terlihat pada belanja barang yang melonjak 66,9% secara tahunan, dari Rp277,9 triliun menjadi Rp463,9 triliun.

Kenaikan tersebut antara lain didorong oleh pelaksanaan program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga September 2026, realisasi anggaran MBG mencapai Rp153,2 triliun.

Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Aktivitas pembangunan koperasi ini berpotensi menggerakkan sektor konstruksi, kebutuhan bahan bangunan, hingga kegiatan ekonomi di daerah.

Tidak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan paket stimulus ekonomi semester II-2026 senilai Rp26,34 triliun, yang mencakup bantuan pangan, diskon transportasi, serta program magang dan pelatihan kerja.

Salah satu programnya adalah bantuan beras 10 kilogram per bulan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama Juli hingga September 2026.

Bantuan yang diharapkan dapat mengurangi pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pokok.

Pemerintah juga berupaya menjaga daya beli dengan tidak menaikkan tarif listrik PLN sepanjang kuartal III-2026. Harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga tetap dipertahankan meskipun harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah mengalami gejolak.

Kebijakan tersebut membantu menahan tambahan beban pengeluaran rumah tangga sekaligus mengurangi risiko kenaikan biaya produksi dan distribusi barang.

Dengan berbagai langkah tersebut, belanja pemerintah berpotensi memberikan dorongan terhadap konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi sepanjang kuartal III-2026. Namun, dampaknya terhadap PDB tetap bergantung pada realisasi program serta seberapa besar belanja tersebut mampu menggerakkan perekonomian domestik.

CNCB INDONESIA RESEARCH 

research@cnbcindonesia.com

Foto: Ilustrasi Tunjangan Hari Raya. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)
Facebook
Twitter
LinkedIn
YAMA FLORIST & NusantaraGrafis HP/WA.0812 88729 886 - 0851 7431 3368

Share this: